Dari UISI ke Thailand: Kisah Anggit Menjelajahi Dunia Akademik dan Budaya di RMUTK
GRESIK – Bagi mahasiswa, pengalaman belajar tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas kampus sendiri. Kesempatan untuk belajar di lingkungan akademik yang berbeda dapat membuka cara pandang baru, memperluas jejaring, sekaligus melatih kemandirian.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh Anggit Mulianing Pambudi, mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), yang berkesempatan mengikuti Summer Scholarship di Rajamangala University of Technology Krungthep (RMUTK), Thailand, selama satu bulan pada bulan Juni hingga Juli 2026.

Menjadi satu-satunya delegasi UISI dalam program tersebut, Anggit tidak hanya membawa nama kampus ke lingkungan akademik internasional, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga untuk belajar, beradaptasi, dan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun Thailand.
Kesempatan tersebut tidak datang begitu saja. Kesiapan berbahasa Inggris, keberanian untuk mencoba, serta dukungan dari UISI, termasuk subsidi pembiayaan dari Program Studi Sistem Informasi, menjadi bagian dari perjalanan Anggit mengikuti program mobilitas internasional tersebut.
Belajar Teknologi, Memahami Budaya
Selama mengikuti program di RMUTK, Anggit menempuh 10 SKS yang terdiri atas empat mata kuliah, yaitu Metode Penelitian, Thai Culture, Small and Medium Enterprises (SME), dan Well-Being. Menariknya, pengalaman belajar di Thailand mempertemukan dua hal yang tampak berbeda: kekuatan budaya lokal dan perkembangan teknologi modern.
Dalam keseharian akademik, Anggit menemukan budaya penghormatan yang kuat melalui tradisi salam Sawatdii dan gestur Wai. Di sisi lain, suasana pembelajaran berlangsung modern dan terbuka terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran mata kuliah SME.
Bagi mahasiswa Sistem Informasi, pengalaman tersebut memberikan perspektif bahwa teknologi tidak berdiri sendiri. Pemanfaatannya selalu berkaitan dengan manusia, budaya, kebutuhan, dan karakter pengguna.
Pembelajaran juga tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Melalui mata kuliah Thai Culture, Anggit mendapatkan kesempatan mengenal sejarah, kuliner, dan kehidupan sosial masyarakat Thailand, termasuk melalui kunjungan lapangan ke komunitas Muslim setempat. Pengalaman tersebut memperkaya pemahamannya mengenai pluralisme, inklusivitas, dan toleransi, sekaligus memberikan perspektif baru tentang pentingnya memahami keberagaman ketika kelak merancang maupun mengembangkan solusi teknologi.
Belajar Mandiri di Lingkungan Internasional

Menjadi satu-satunya delegasi UISI tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Anggit harus beradaptasi dengan lingkungan baru sekaligus membangun komunikasi dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Perbedaan gaya belajar dan pelafalan bahasa Inggris dengan aksen Thailand juga menjadi pengalaman tersendiri. Namun, dukungan dari para dosen dan suasana pembelajaran yang komunikatif membantu proses adaptasi tersebut berjalan dengan baik.
Di luar capaian akademik, pengalaman tersebut melatih kemandirian, ketahanan mental, kemampuan berkomunikasi, serta keberanian untuk beradaptasi di lingkungan yang berbeda. Bagi Anggit, belajar di luar negeri akhirnya bukan hanya tentang apa yang dipelajari dari buku atau materi perkuliahan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang belajar memahami lingkungan dan dirinya sendiri.
Satu Bulan yang Membuka Peluang Jangka Panjang
Menariknya, pengalaman di RMUTK tidak berhenti ketika program berakhir dan Anggit kembali ke Indonesia. Selama mengikuti program, terbuka peluang untuk membangun jejaring akademik dan kolaborasi penelitian. Salah satunya adalah peluang kerja sama penulisan dan pengiriman artikel ilmiah bersama Prof. Alan, salah satu guru besar di RMUTK.
Peluang tersebut menjadi salah satu nilai penting dari program mobilitas internasional. Durasi program yang relatif singkat dapat menjadi awal bagi terbentuknya hubungan akademik yang lebih panjang, baik bagi mahasiswa maupun institusi.
Bagi UISI, pengalaman mahasiswa seperti ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring internasional dan membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi mitra.

Berani Mencoba, Siapkan Diri Sejak Dini
Dari pengalaman tersebut, Anggit melihat bahwa kesempatan mengikuti program internasional perlu dipersiapkan sejak dini. Kemampuan bahasa Inggris dan kesiapan finansial menjadi dua hal yang perlu diperhatikan mahasiswa yang ingin mengikuti program serupa.
Namun, lebih dari sekadar persiapan teknis, pengalaman di Thailand menunjukkan pentingnya keberanian untuk mencoba.
Satu bulan di negeri orang mungkin terasa singkat. Tetapi bagi seorang mahasiswa, pengalaman tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengenal dunia akademik internasional, membangun jejaring, memahami budaya yang berbeda, sekaligus menemukan peluang-peluang baru.
Dari UISI menuju Thailand, perjalanan Anggit menjadi pengingat bahwa pengalaman internasional tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Terkadang, semuanya bermula dari keberanian untuk berkata: “Saya mau mencoba.”
(REPC/DHK)