Juara Harapan 1, Kecewa Sedikit Nggak Apa-Apa: Cerita Iseng yang Mengantar ke Final BN Youth Competition

UISI - Juara harapan sering kali dianggap sebagai posisi aman sebab tidak kalah, tapi juga belum benar-benar menang. Saikhul Basir ada di posisi itu saat dinobatkan sebagai Harapan 1 Brawijaya National Youth Competition. Responsnya pun tanpa basa-basi yaitu kecewa. Bukan karena gagal, tapi karena belum juara satu. Jujur saja, rasanya memang begitu.
Kompetisi ini mengusung format esai dengan tema besar green tourism. Saikhul memilih menulis soal pencemaran pantai akibat sampah wisatawan, sesuatu yang dekat dengan kesehariannya. Ia menyoroti kondisi Pantai Pulau Merah di daerah asalnya yang mulai kehilangan kebersihan. Dari keresahan itu, lahirlah gagasan bank sampah digital berbasis website, yang tidak hanya fokus pada teknologi, tapi juga dampaknya bagi lingkungan, pariwisata, dan UMKM sekitar.
Yang membuat ceritanya menarik, esai tersebut dikerjakan tanpa persiapan panjang. Saikhul menyusunnya hanya dalam satu hari, murni karena iseng mencoba. Tak ada strategi matang, tak ada target masuk final. Namun dari lebih dari 900 peserta, tulisannya justru melaju hingga lima besar nasional. Ia sendiri mengaku tak tahu pasti apa yang membuatnya lolos, meski argumen yang ia bangun tampaknya menjadi pembeda.
Dukungan datang dari hal-hal sederhana. Salah satu dosen Sistem Informasi bahkan meminjamkan uang agar Saikhul bisa berangkat ke babak final. Soal pelajaran berharga? Ia tak mengemasnya dengan kalimat motivasi. Jawabannya lugas. Tapi satu hal sudah pasti: ide yang ia bawa tidak ingin berhenti di lomba. Bank sampah digital tersebut akan terus ia kembangkan.
Cerita Saikhul Basir mengingatkan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari rencana besar. Kadang, ia muncul dari keresahan sederhana, dikerjakan dengan santai, lalu berakhir jauh lebih serius dari yang dibayangkan. (may)