Affizah Ristiana bersama timnya telah lolos pendanaan tingkat universitas
Affizah Ristiana bersama timnya telah lolos pendanaan tingkat universitas
12 Juni 2018 | Tim Media UISI

Mahasiswa Informatika Temukan Sistem Baru Perijinan Pondok Pesantren

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian masyarakat atau yang lebih dikenal dengan kategori PKM-M yang beranggotakan lima mahasiswa Informatika Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) siap mengimplementasikan programnya.

Gresik, UISI – Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian masyarakat (PKMK) yang beranggotakan lima mahasiswa Informatika Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) ini telah lolos pendanaan tingkat universitas. Tim yang diketuai oleh Affizah Ristiana ini mengangkat permasalahan di dalam pondok yang terdapat di daerah Kota Lamongan. Bermula dari persoalan perijinan santri di dalam pondok yang akan keluar masuk area pondok, dirasa tidak efektif karena masih dilakukan secara manual. Judul PKM yang mereka angkat adalah “Implementasi Sistem Informasi Perizinan Guna Mewujudkan Ketertiban Santri di Pondok Roudhlotul Quran Lamongan”.

Anggota tim yang lain yaitu, Adrianto Yanuar, Fitri Kurniasari, Mochamad Yudha F., dan Novita Rizky A. Mereka berlima memiliki ide untuk membuat sebuah alat untuk memudahkan proses perijinan di pondok yaitu dengan menggunakan alat pemindai (scanner) beserta kartu identitas yang berisi nama dan nomor induk santri. Nantinya setiap kartu identitas akan ditempelkan pada alat pemindai (scanner) ketika akan keluar dan begitu pula sewaktu kembali. Sehingga pengawas tidak perlu mengingat santri yang keluar masuk.

“Terkadang ada santri yang pamit ke laundry tetapi mungkinkan hanya 15 menit karena dekat, lalu ada orang tuanya datang sedangkan pengawasnya lupa santrinya tadi pamit kemana”, ujar Fiza selaku ketua tim. Setelah dinyatakan lolos pendanaan, Fiza beserta timnya menuju Kota Lamongan untuk mengimplementasikan program sekaligus mengetahui secara langsung titik-titik lokasi yang akan dipasang alat pemindai (scanner). Setelah percobaan pengimplementasian program, rupanya pihak dari pondok merasa kesulitan dan meminta pembaharuan program berisi ikon-ikon tempat tujuan agar lebih memudahkan penjaga pos.

Proses pembaharuan program membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan sehingga belum diuji cobakan kembali. Disamping itu, kartu identitas juga dalam proses pengerjaan sembari menunggu santri baru karena sekarang musim penerimaan santri baru untuk di data lebih lanjut sebagai data tertera di kartu identitasnya. Diharapkan setelah program ini berhasil akan terus berlanjut dan benar-benar berguna bagi penghuni pondok pesantren. (rry/ral)

Artikel Terkait