Seminar Green Factory EM Week XII UISI Bahas Keseimbangan Profit Industri dan Kelestarian Lingkungan
Gresik – Ketika berbicara tentang pabrik atau industri besar, yang sering terlintas di benak banyak orang adalah cerobong asap, deru mesin, limbah, serta target keuntungan bernilai miliaran rupiah. Namun, benarkah industri harus selalu mengorbankan lingkungan demi mengejar profit?
Pertanyaan tersebut menjadi tema utama dalam Seminar Green Factory, salah satu rangkaian kegiatan tahunan bergengsi EM Week ke-12 yang diselenggarakan oleh Program Studi Manajemen Rekayasa Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI).
Suasana LG Floor Icon Mall Gresik pada Sabtu, 16 Mei 2026, terasa berbeda. Puluhan peserta dari berbagai kalangan hadir untuk menyimak diskusi yang dipandu oleh dosen Manajemen Rekayasa UISI, Dr. Qurrotun A’yunina Maulida Okta Arifianti, S.T., M.S. Seminar ini menghadirkan dua perspektif yang saling melengkapi: sudut pandang industri melalui PT Petrokimia Gresik dan perspektif lingkungan dari Ecoton.
Sisi Korporasi: Mengubah Limbah Menjadi Peluang Berkelanjutan
Sesi pertama menghadirkan Erwin Indra Prasetyo, S.Stat., M.M., perwakilan PT Petrokimia Gresik, yang membawakan materi bertajuk “Industry Policy: Profit or Green Oriented?”.
Dalam pemaparannya, Erwin menegaskan bahwa industri modern tidak lagi dapat berfokus semata-mata pada keuntungan. Perusahaan yang ingin bertahan dan berkembang dalam jangka panjang harus menerapkan konsep 3P (People, Profit, Planet) sebagai fondasi keberlanjutan bisnis.

Mengolah limbah industri memang bukan pekerjaan mudah maupun murah. Dibutuhkan proses panjang, investasi, serta komitmen inovasi yang berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah pengembangan pupuk organik Petroganik yang dilakukan PT Petrokimia Gresik sejak tahun 2004.
Limbah dari sektor peternakan, pertanian, hingga sisa proses industri diolah kembali melalui berbagai tahapan, mulai dari pemilihan bahan baku, penghalusan, penambahan nutrisi, hingga proses granulasi untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi. Inovasi berbasis ekonomi sirkular ini tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Atas berbagai upaya tersebut, PT Petrokimia Gresik berhasil meraih sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan berbagai penghargaan dalam ajang Indonesia SDGs Award.
Sisi Lingkungan: Tanggung Jawab Industri di Balik Krisis Mikroplastik
Perspektif lain disampaikan oleh Amiruddin Muttaqin, S.T., M.Si., perwakilan Ecoton, melalui materi berjudul “Efisiensi vs Keberlanjutan: Industri Mau Untung atau Hijau?”.
Berdasarkan berbagai data dan temuan lapangan, kondisi perairan di Indonesia saat ini berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Lebih dari separuh sungai di Indonesia terindikasi mengalami pencemaran berat. Salah satu penyebab utamanya adalah tingginya beban limbah cair industri dan sampah plastik yang berakhir di badan air, termasuk di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat Jawa Timur.
Amir menegaskan bahwa sampah kemasan yang tersebar dan menumpuk di lingkungan sejatinya merupakan tanggung jawab produsen. Menurutnya, industri tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan dari penjualan produk, tetapi juga harus memikirkan siklus hidup kemasan yang mereka hasilkan agar tidak berakhir mencemari lingkungan.

Kelalaian dalam pengelolaan limbah telah memunculkan ancaman serius berupa krisis mikroplastik. Partikel plastik berukuran sangat kecil ini kini telah mencemari rantai makanan secara luas. Temuan Ecoton menunjukkan bahwa sebagian besar ikan yang hidup di sungai-sungai Indonesia telah mengandung mikroplastik dalam saluran pencernaannya.
Dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga kesehatan manusia. Dalam pemaparannya, Amir mengungkapkan bahwa mikroplastik telah terdeteksi dalam air ketuban ibu hamil. Selain itu, paparan mikroplastik juga berpotensi memengaruhi kualitas dan kematangan sperma.
Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi sekadar persoalan estetika atau kebersihan, melainkan ancaman nyata bagi kualitas hidup dan keberlangsungan generasi masa depan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Menghadapi tantangan tersebut, Ecoton terus melakukan berbagai upaya melalui riset, ekspedisi sungai, edukasi masyarakat, serta kampanye lingkungan. Namun, penyelesaian masalah ini membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, baik individu, komunitas, pemerintah, maupun industri.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membiasakan membawa tumbler, alat makan pribadi, dan tas belanja ramah lingkungan.
- Memilah sampah dari rumah dengan memisahkan sampah organik dan anorganik agar material yang masih dapat didaur ulang tidak berakhir di sungai atau tempat pembuangan akhir.
- Menjadi konsumen yang lebih kritis dengan mendukung perusahaan yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular dan memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan limbah produknya.
Menjembatani Industri dan Kelestarian Lingkungan
Seminar Green Factory meninggalkan satu pesan penting: inovasi adalah kunci untuk menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan industri dan kelestarian lingkungan.
Dari PT Petrokimia Gresik, peserta belajar bahwa limbah dapat diubah menjadi nilai ekonomi melalui inovasi dan teknologi. Sementara dari Ecoton, peserta diingatkan bahwa terdapat batas-batas ekologis yang harus dijaga agar tidak mengancam kesehatan dan kehidupan generasi mendatang.
Seminar ini menegaskan bahwa menjadi “hijau” tidak berarti harus mengorbankan profit. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila industri mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam setiap keputusan bisnisnya.
Bagi mahasiswa Manajemen Rekayasa UISI, pesan tersebut menjadi bekal penting untuk menjadi perancang sistem industri masa depan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap manusia dan lingkungan. Sebab, pembangunan industri memang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, namun melalui teknologi, inovasi, dan komitmen keberlanjutan, dampak tersebut dapat diminimalkan.
Terima kasih kepada seluruh peserta yang telah memeriahkan Seminar Green Factory di LG Floor Icon Mall Gresik. Sampai jumpa pada rangkaian kegiatan EM Week berikutnya dengan diskusi yang lebih inspiratif dan penuh wawasan.
(Tiara)