Peserta Seminar Nasional LogistiChamp 2026 menyimak paparan tentang logistik dalam respons bencana.
Peserta Seminar Nasional LogistiChamp 2026 menyimak paparan tentang logistik dalam respons bencana.
2 September 2026 | Tim Media UISI

Seminar Nasional LogistiChamp 2026: BPBD Gresik Bongkar Rahasia Rantai Logistik Kebencanaan

Seminar Nasional LogistiChamp 2026 mengajak generasi muda memahami peran penting rantai logistik dalam respons bencana melalui pengalaman praktisi BPBD Gresik.

Di balik setiap operasi penyelamatan bencana yang berhasil, ada satu elemen yang jarang mendapat sorotan: rantai logistik yang bekerja tanpa henti di belakang layar. Seminar Nasional LogistiChamp 2026 hadir untuk mengupas tuntas peran senyap namun vital tersebut, mengajak generasi muda melihat sisi lain dari respons kemanusiaan.

Sesi Foto Bersama

Ketika bencana datang, yang tampak di layar televisi biasanya adalah adegan evakuasi dan bantuan yang berdatangan. Namun, di balik semua itu, ada sistem logistik yang bekerja senyap namun menentukan siapa yang mendapat bantuan, kapan bantuan tiba, dan lewat jalur mana bantuan tersebut disalurkan. Peran itulah yang diangkat dalam Seminar Nasional LogistiChamp 2026 bertajuk "Behind the Crisis: Peran Logistik dalam Respons Bencana".

Seminar digelar di Auditorium Kampus B Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Rabu (12/8/2026), mulai pukul 09.00 WIB. Acara ini menghadirkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik, Fransiscus Xaverius Driatmiko Herlambang, sebagai pemateri utama. Fransiscus membagikan pengalamannya menangani berbagai bencana di Gresik—wilayah pesisir yang rawan banjir rob, angin kencang, hingga gempa bumi. Acara dipandu oleh Hilda Uchtruja Jasmin sebagai pembawa acara, sementara Aditya Al Bani Ramadhan bertindak sebagai moderator diskusi.

narasumber

Dalam paparannya, Fransiscus menegaskan bahwa logistik bencana bukan sekadar mengirim bantuan dari satu titik ke titik lain. Prosesnya mencakup rantai pasok panjang, mulai dari identifikasi kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, hingga distribusi dan pemantauan.

"Satu mata rantai putus, maka seluruh sistem bisa terganggu," ujarnya tegas di hadapan puluhan peserta yang memadati ruang auditorium.

Ia juga memaparkan berbagai tantangan yang kerap dihadapi tim logistik BPBD di lapangan, di antaranya akses jalan yang terputus akibat bencana, keterbatasan informasi, serta lemahnya koordinasi antarlembaga. Kesiapan sumber daya manusia yang belum merata turut menjadi kendala tersendiri.

Sesi diskusi berlangsung hidup dan interaktif. Para mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan kritis, mulai dari mekanisme koordinasi antarinstansi, pengelolaan donasi publik, hingga pemanfaatan teknologi dalam sistem peringatan dini dan distribusi bantuan.

Seminar ini tidak berhenti pada pemahaman teknis semata. Lebih dari itu, panitia ingin menanamkan kesadaran bahwa tanggung jawab menghadapi bencana bukan hanya berada di pundak pemerintah atau BPBD.

"Kami ingin mahasiswa sadar bahwa setiap orang memiliki peran, baik sebagai relawan, pengelola informasi, maupun bagian dari mata rantai logistik kemanusiaan," ujar perwakilan panitia penyelenggara.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pertemuan antara akademisi, mahasiswa, dan praktisi kebencanaan. Para peserta memperoleh gambaran lebih luas mengenai peluang karier di bidang logistik kemanusiaan—sektor yang selama ini relatif jarang disorot.

Antusiasme peserta terlihat hingga acara usai. Banyak yang bertahan dan melanjutkan diskusi informal dengan narasumber di luar ruang seminar. Sebagai bentuk apresiasi, panitia membagikan e-sertifikat kepada seluruh peserta di penghujung acara.

suasana seminar

Penyelenggara berharap seminar ini menjadi titik awal kesadaran yang lebih luas di kalangan generasi muda tentang pentingnya logistik dalam sistem penanggulangan bencana nasional. Pemahaman yang memadai diharapkan dapat melahirkan lebih banyak sumber daya manusia yang siap berkontribusi—tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga dalam upaya mitigasi dan kesiapsiagaan.

Seminar LogistiChamp 2026 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan praktisi kebencanaan dapat memperkaya pemahaman bersama atas tantangan kemanusiaan di Indonesia, negara dengan risiko bencana yang tinggi. Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan makin banyak generasi muda yang tergerak untuk terjun ke bidang logistik dan manajemen bencana, sehingga tersedia lebih banyak tenaga terlatih yang siap siaga kapan pun dibutuhkan.

(SSZU/DHK)

Artikel Terkait